Nov 17, 2011

Wawancara dalam Penelitian


Penelitian sosial tidak dapat melepaskan diri dari penelitian kualitatif. Bahkan, mungkin penelitian inilah yang menjadi ciri khas ilmu sosial. Salah satu hal pokok yang harus dikuasai oleh peneliti dalam penelitian kualitatif adalah metode wawancara.
       Mahasiswa tingkat akhir biasanya sedikit abai dengan wawancara. Mereka bahkan terlalu terpukau dengan istilah-istilah interaksi simbolik, fenomenologi, etnografi komunikasi, atau etnometodologi. Padahal sejatinya, teknik wawancara inilah yang menentukan sebuah penelitian itu masuk ke dalam teknik yang mana (CMIIW). Beberapa kali menjadi pembimbing skripsi, Saya mengamati mahasiswa terlalu mudah mencantumkan kata-kata “wawancara mendalam” di bagian pengumpulan data. Lalu ketika penguji bertanya: “Bedanya dengan wawancara TIDAK MENDALAM apa?” Sang mahasiswa hanya garuk-garuk kepala sambil memberikan senyumnya yang paling manis.
       Cresswell (2010:272), memberikan beberapa jenis wawancara. Berikut ini adalah 5 (lima) jenis wawancara: 1) Wawancara tidak-terstruktur dan terbuka, sambil mencatat hal-hal yang penting, 2) Wawancara tidak-terstruktur dan terbuka, sambil merekamnya dengan audiotape, lalu mentranskripnya, 3) Wawancara semi-struktur, sambil merekamnya dengan audiotape, lalu mentranskripnya, 4) Focus group, sambil merekamnya dengan audiotape, lalu mentranskripnya, dan 5) Beberapa model wawancara dijadikan satu: melalui email, berhadapan langsung, wawancara focus group, wawancara focus group online, wawancara telepon, atau chatting.
       Semua bentuk wawancara di atas berkaitan erat tujuan penelitian, selain juga berkaitan dengan karakteristik individu yang hendak dijadikan informan. Saya pribadi selama ini lebih sering memanfaatkan teknik wawancara semi-struktur sambil merekamnya di audiotape yang kemudian ditranskrip. Saya merasa hasil rekaman yang ditranskrip, ditambahkan dengan catatan observasi lapangan memunculkan data yang luar biasa lengkap. Perekaman di audiotape juga seringkali membuat informan merasa lebih nyaman bila dibandingkan dengan apabila kita bolak-balik mencatat apa yang dibicarakan. Bahkan, kadang-kadang diperlukan perekaman secara candid atau sembunyi-sembunyi agar informan merasa nyaman ketika bercerita. Namun, jangan lupa peneliti harus tetap memberitahu perihal penelitian yang dilakukannya.
       Ada beberapa hal yang harus diingat peneliti ketika melakukan wawancara. Pertama, selalu catat tanggal, judul, lokasi, serta informan / partisipan wawancara. Proses penelitian kualitatif seringkali memakan waktu yang lama. Wawancara juga sering dilakukan sampai berkali-kali dan hasilnya membuat pola-pola tertentu. Hal-hal ini membuat peneliti terkadang lupa wawancara yang dilakukan dalam konteks apa, siapa informannya, lokasinya di mana, dan kapan wawancara itu dilakukan. Kesalahan yang terlihat sepele ini bisa mengakibatkan peneliti harus mengulang proses wawancara dari nol lagi.
      Kedua, peneliti harus benar-benar sabar. Proses wawancara tidak seperti sulap, sekali bertanya dan sekali tahu jawabannya. Kadang-kadang, peneliti harus memulai wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka atau lebih dikenal dengan pertanyaan ice breaking. Pada titik ini, peneliti dituntut untuk mengetahui secara detil latar belakang informan. Kadang-kadang, proses ice breaking ini justru lebih lama dibandingkan dengan wawancara intinya. Bahkan, kalau peneliti sedang beruntung, dari wawancara ice breaking ini bisa didapatkan data-data yang berharga. Yang jelas, kalau peneliti sudi bersabar kemungkinan besar masuk surga, karena orang sabar itu disayang Tuhan.
      Ketiga, perjelas hal-hal yang kurang jelas. Peneliti harus mampu menggali data sampai tuntas. Apabila ada hal-hal dalam wawancara yang kurang dipahami, tanyakan sampai jelas. Akan lebih baik lagi bila peneliti membawa “penerjemah” dalam proses wawancara. “Penerjemah” yang Saya maksud di sini adalah orang yang benar-benar memahami latar belakang informan, akan lebih bagus lagi kalau peneliti berhasil menjadi insider sehingga penelitian tersebut tidak perlu penerjemah lagi.
      Terakhir, tinggalkan kesan yang baik. Wawancara yang telah dilakukan merupakan harta yang tidak ternilai bagi peneliti. Di sisi lain, informan sudah mengorbankan waktunya untuk peneliti. Paling tidak tinggalkanlah kesan yang baik dengan mengucapkan terima kasih. Peneliti juga bisa sekaligus berperan sebagai teman curhat informan. Karena dengan demikian, peneliti telah menghargai informannya.

Rujukan:
Creswell, John W. 2010. Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Penerjemah: Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...